Saturday, September 19, 2026

Yesaya 1:10-20

YESAYA 1:10-20

BAHAN KHOTBAH IHM 20 SEP 2026


PENDAHULUAN

Bayangkan Anda menerima sebuah kado ulang tahun. Bungkusnya luar biasa indah—kertasnya berkilau, pitanya besar, dan kotaknya terlihat mahal. Namun, ketika Anda membukanya dengan penuhsemangat, ternyata di dalamnya berisi sampah yang sudah membusuk.




Apa perasaan Anda? Kecewa, marah, atau mungkin merasa dipermainkan. Kurang lebih seperti itulah perasaan Allah yang digambarkan dalam kitab Yesaya pasal 1 ini. Umat Israel pada masa itu memberikan "kado" ibadah yang luar biasa meriah. Ibadah mereka teratur, persembahan mereka melimpah, dan doa-doa mereka panjang. Namun, di mata Allah, kado yang bungkusnya indah itu isinya membusuk.


TELAAH PERIKOP (Eksgesis Yesaya 1:10-20)

Perikop ini adalah salah satu teguran paling keras dalam Perjanjian Lama mengenai kemunafikan beragama. Mari kita bedah perikop ini ke dalam tiga pokok pemikiran utama:


1. Teguran Keras atas Ibadah yang Munafik (Ayat 10-15)

Nabi Yesaya membuka tegurannya dengan panggilan yang sangat mengejutkan di ayat 10: "Dengarlah firman TUHAN, hai pemimpin-pemimpin Sodom! Perhatikanlah pengajaran Allah kita, hai rakyat Gomora!" 


Tentu saja Yesaya sedang berbicara kepada

penduduk Yerusalem, umat pilihan Allah. Namun, ia menyamakan mereka dengan Sodom dan Gomora—dua kota yang dihancurkan Allah karena kejahatan dan ketidakadilan sosial mereka yang luar biasa.2. 3. 


Di ayat 11-15, Tuhan menyatakan penolakan-Nya yang total terhadap ritual keagamaan mereka. Tuhan berkata, "Aku muak," "Aku tidak berkenan," dan "Aku akan memalingkan muka-Ku." Mengapa Allah menolak ibadah mereka? Jawabannya ada di akhir ayat 15: "Tanganmu penuh dengan darah." Mereka mengangkat tangan untuk berdoa di Bait Allah, tetapi tangan yang sama digunakan untuk menindas sesama, memeras orang miskin, dan melakukan ketidakadilan. Tuhan menolak ibadah yang terpisah dari moralitas.


2. Panggilan untuk Pertobatan Aktif dan Keadilan Sosial (Ay.16-17)

Setelah menegur, Allah memberikan jalan keluar. Ayat 16 dimulai dengan perintah: "Basuhlah, bersihkanlah dirimu..." 


Dalam

רָ חַ ץ bahasa Ibrani, kata yang digunakan untuk membasuh adalah

(Rachats). Ini bukan sekadar cuci tangan biasa, melainkan sebuah pembersihan ritual yang mendalam—sebuah metafora untuk penyucian hati dari dosa. Namun, pertobatan sejati tidak berhenti pada berhenti berbuat jahat. Ayat 17 menjabarkan tindakan aktif: "Belajarlah berbuat

baik; usahakanlah keadilan, kendalikanlah orang kejam; belalah hak anak yatim, perjuangkanlah perkara janda!" Kata "Keadilan" di sini menggunakan bahasa Ibrani מִ שְׁ פָ ט (Mishpat).


Mishpat bukanlah sekadar keadilan hukum di pengadilan, tetapi sebuah keadilan restoratif yang memastikan hak-hak kelompok

yang paling rentan (anak yatim, janda, orang miskin) dilindungi. Allah menegaskan bahwa berbuat baik harus dibuktikan dengan kepedulian struktural dan sosial, bukan sekadar kesalehan pribadi.


3. Tawaran Anugerah dan Pilihan Manusia (Ayat 18-20)

Bagian ini adalah salah satu janji anugerah yang paling indah di Alkitab. "Sekalipun dosamu merah seperti kirmizi, akan menjadi putih seperti salju..." (ay. 18). Kata "kirmizi" dalam bahasa aslinya adalah שָ נִי (Shaniy), merujuk pada zat pewarna merah ganda yangsangat pekat dan diikat kuat pada kain. 


Pada masa itu, warna kirmizi tidak mungkin dicuci atau dilunturkan. Ini menggambarkan

dosa umat yang sudah mendarah daging dan mustahil dibersihkan oleh usaha manusia. Namun, apa yang mustahil bagi manusia,

diselesaikan oleh anugerah Allah—Ia sendiri yang akan memutihkannya seperti salju (שֶׁ לֶׁג - Sheleg).


Diakhiri dengan ayat 19-20, Tuhan memberikan pilihan: Jika kamu mendengar dan taat (Ibrani: שָ מַ ע - Shama, yang berarti mendengarkan dengan penuh perhatian dan mewujudkannya

dalam tindakan), kamu akan makan hasil baik. 


Namun jika memberontak, pedang yang akan memakanmu. Keselamatan ditawarkan secara gratis, tetapi membutuhkan respons ketaatan.


RELEVANSI - APLIKASI (Bagi Kehidupan Saat Ini)


Saudara-saudara, apa pesan dari perikop yang ditulis ribuan tahun lalu ini bagi kita hari ini? Ada dua aplikasi penting yang harus kita bawa pulang:


1. Kesalehan Ritual Harus Berjalan Beriringan dengan Kesalehan Sosial

Teks ini menjadi cermin yang tajam bagi kekristenan modern. Kita mungkin tidak lagi mempersembahkan lembu atau domba, tetapi

kita mempersembahkan perpuluhan, mengangkat tangan dalam penyembahan, tidak pernah absen kebaktian hari Minggu, dan aktif melayani di paduan suara.


Namun, pertanyaannya adalah: Bagaimana kehidupan kita dari hari Senin sampai Sabtu?

Apakah kita bos yang memotong hak karyawan dengan tidak adil?

Apakah kita pedagang yang mengurangi timbangan atau berbohong soal kualitas barang?

Apakah kita menolak membantu tetangga yang sedang kelaparan sementara tabungan kita berlimpah?


Tuhan mengingatkan kita hari ini: Ibadah hari Minggu kita tidak bisa menutupi dosa ketidakadilan kita pada hari Senin.  Hati Tuhan sangat hancur jika gereja-Nya sibuk dengan acara-acara ibadah yang spektakuler, namun menutup mata terhadap penderitaan dan ketidakadilan di sekelilingnya. Mishpat atau keadilan sosial harus menjadi denyut nadi dari kekristenan kita.


2. Anugerah Tuhan Selalu Tersedia Bagi yang Mau Berbalik 

Mungkin saat mendengarkan teguran firman Tuhan hari ini, ada di antara kita yang merasa tertempelak. Mungkin kita sadar selama

ini kita menjalani kehidupan yang munafik. Di gereja kita terlihat suci, tetapi di luar gereja kehidupan kita hancur oleh dosa kebohongan, kebencian, atau kecurangan.


Kabar baiknya adalah, Tuhan tidak berhenti di ayat 15 (penolakan). Ia melanjutkan ke ayat 18 (undangan anugerah). Seberapa pekat

pun dosa dan kemunafikan kita—meskipun semerah kirmizi yang tampaknya mustahil dihapus—darah Kristus sanggup membasuh

kita hingga seputih salju.


Saudara-saudara, mari kita merespons undangan Tuhan. Mari kita bawa ibadah kita bukan sekadar sebagai rutinitas agamawi, melainkan ibadah yang hidup.


Biarlah tangan yang kita angkat untuk menyembah Tuhan di gereja, menjadi tangan yang sama yang kita ulurkan untuk menolong mereka yang lemah dan tertindas di luar gereja. Jadilah umat yang mendengarkan dan taat. Amin.


Friday, September 11, 2026

SURAT KECIL UNTUK PARA PELAYAN YANG MULAI LELAH DAN REDUP

 SURAT KECIL UNTUK PELAYAN YANG MULAI LELAH DAN REDUP

“Tuhan, cukup ya… saya lelah.” (1 Raja-raja 19:1–18)

Ada masa ketika seorang pelayan Tuhan tidak lagi bertanya:
“Tuhan, apa yang dapat aku lakukan bagi-Mu?”

Melainkan diam-diam bertanya:
“Tuhan… sampai kapan saya harus terus kuat?”

Ada masa ketika kaki masih berjalan ke tempat pelayanan, mulut masih menyampaikan firman, tangan masih mengerjakan tanggung jawab, senyum masih diberikan kepada jemaat, dan kita masih mampu menguatkan orang lain.

Tetapi jauh di dalam hati, ada sesuatu yang mulai redup. Bukan karena kita tidak mengasihi Tuhan.
Bukan karena kita tidak mencintai pelayanan. Bukan karena kita ingin meninggalkan panggilan.
Kita hanya… lelah….

Ijinkan aku berbagi pengharapan melalui “Surat Kecil” untukmu.
————

KITA BISA MENGASIHI PELAYANAN DAN SEKALIGUS MERASA LELAH

Ada orang-orang yang begitu terbiasa menjadi kuat bagi orang lain, sampai mereka sendiri lupa bagaimana caranya berkata:
“Saya sedang tidak kuat.”

Kita mendengarkan keluhan orang. 
Kita mendoakan mereka. 
Kita menguatkan yang kecewa.
Kita menemani yang berduka.
Kita meneguhkan yang hampir menyerah.

Tetapi ketika malam tiba dan semua orang pulang, kita berhadapan dengan diri sendiri.
Dan kadang hanya ada satu doa yang mampu keluar:
“Tuhan, saya lelah.”

Jangan buru-buru merasa bersalah karena doa itu.
Elia juga pernah sampai di sana.
Setelah mengalami pelayanan yang luar biasa di Gunung Karmel, Elia justru jatuh dalam kelelahan yang sangat dalam.

Ia pergi.
Ia duduk seorang diri.
Ia bahkan meminta supaya nyawanya diambil.

Dan menariknya, Tuhan tidak langsung berkata:
“Elia, mengapa imanmu kecil?”

Tuhan tidak mempermalukannya. Tuhan tidak mengatakan:
“Kamu seorang nabi. Kamu tidak boleh lemah.”

Tuhan justru membiarkan Elia tidur.
Kemudian Tuhan menyediakan makanan dan air. Seolah-olah Tuhan berkata:
“Anak-Ku, engkau terlalu lelah. Beristirahatlah dahulu.”

——————

KADANG KITA TERLALU BANYAK MENGISI RUANG

Ada begitu banyak ruang yang membutuhkan kita.
Ada jemaat yang membutuhkan perhatian.
Ada program yang harus dikerjakan.
Ada daerah yang perlu dijangkau.
Ada orang yang harus dikuatkan.
Ada pelayanan yang harus dikembangkan.
Ada keluarga yang harus diperhatikan.
Ada kebutuhan hidup yang harus dipikirkan.
Ada anak yang harus disekolahkan.
Ada rumah yang harus dihidupi.

Ada begitu banyak hal yang membuat kita berkata:
“Kalau bukan saya, siapa?”

Lalu kita mengambil satu tugas.
Kemudian satu lagi.
Kemudian satu lagi.
Dan masih satu lagi...

Sampai suatu hari kita sadar:
Ternyata terlalu banyak ruang yang kita isi.
Dan kita mulai kehilangan ruang untuk bernapas.
Kita mulai kehilangan ruang untuk diam.
Kita mulai kehilangan ruang untuk Tuhan.
Bahkan mungkin kehilangan ruang untuk diri sendiri.

—————

“SAYANG KALAU BERHENTI…”

Ada satu jebakan yang sangat halus dalam pelayanan.
Kita melihat perjalanan panjang yang sudah kita tempuh.
Waktu yang sudah diberikan.
Tenaga yang sudah dicurahkan.
Air mata yang pernah jatuh.
Orang-orang yang pernah kita layani.
Program yang sudah dibangun.
Jembatan yang sudah kita buat.

Lalu kita berpikir:
“Sayang kalau saya berhenti sekarang.”

Dan memang benar.
Waktu tidak dapat diputar kembali. 

Tetapi ada sesuatu yang juga perlu kita ingat:

Tidak semua yang pernah kita mulai harus kita teruskan sampai akhir. 
Ada sesuatu yang Tuhan percayakan kepada kita untuk dikerjakan.
Ada sesuatu yang mungkin Tuhan percayakan kepada orang lain.
Dan ada sesuatu yang mungkin harus kita lepaskan agar kita tetap mampu mengerjakan yang benar-benar Tuhan percayakan kepada kita.
Melepaskan bukan selalu berarti menyerah. Kadang melepaskan adalah bentuk ketaatan.

——————

“TUHAN, APALAGI YANG ENGKAU INGINKAN?”

Saya kira ini adalah pertanyaan yang sangat indah dari seorang pelayan:
“Tuhan, apalagi yang ENGKAU ingini untuk aku lakukan?”

Tetapi setelah bertahun-tahun berjalan, mungkin kita perlu belajar mengajukan pertanyaan yang berbeda: “Tuhan, dari semua yang ada di depan saya, mana yang benar-benar Engkau percayakan kepada saya?”

Karena Tuhan tidak pernah berkata bahwa kita harus mengerjakan semuanya.

Kita bukan Juruselamat.
Kita hanya pelayan. Dan seorang pelayan tidak harus menyelesaikan seluruh pekerjaan Tuhan.
Ia hanya perlu setia pada bagian yang dipercayakan kepadanya.

———————

PELAYAN JUGA BOLEH BERKATA: “CUKUP YA, TUHAN…”

Ada kalanya doa seorang pelayan bukan:
“Tuhan, berikan aku kekuatan untuk melakukan lebih banyak.”

Tetapi:
“Tuhan, cukup ya… saya lelah.”

Saya percaya Tuhan tidak tersinggung oleh doa seperti itu. 
Sebab Tuhan mengenal tubuh kita.
Ia tahu batas kita.
Ia tahu pikiran kita.
Ia tahu tanggung jawab kita.
Ia tahu pergumulan yang bahkan tidak sanggup kita ceritakan kepada siapa pun.

Dan mungkin ketika kita berkata: 
“Tuhan, saya sudah tidak sanggup,”

Sangat mungkin Tuhan tidak sedang mencari alasan untuk menegur kita. Mungkin Ia sedang mengundang kita untuk berhenti sejenak dan berkata:
“Sekarang biarkan Aku yang menopangmu.”

——————

KITA PANDAI MENGUATKAN ORANG LAIN, TETAPI…

Ini mungkin salah satu pergumulan paling sunyi dalam kehidupan seorang pelayan.
Kita tahu kata-kata yang tepat untuk orang lain.
Kita tahu ayat yang harus diberikan kepada orang yang sedang menangis.
Kita tahu bagaimana meneguhkan orang yang hampir menyerah.
Kita tahu bagaimana mengatakan:

“Tuhan pasti menolong.”

Tetapi ketika kita sendiri berada di titik yang sama… “kata-kata itu terasa begitu sulit kita percayai.”
Bukan karena kita tidak beriman. Tetapi karena kita manusia. Dan mungkin Tuhan sedang mengajarkan sesuatu:

Kita tidak hanya dipanggil untuk menjadi penolong.
Kita juga dipanggil untuk menerima pertolongan.
Kita tidak hanya dipanggil untuk menguatkan.
Kita juga boleh dikuatkan.
Kita tidak selalu harus menjadi gembala yang berdiri.
Kadang gembala juga perlu duduk.
Kadang gembala juga perlu menangis.
Kadang gembala juga perlu berkata:
“Tuhan, tolong saya.”

———————

KESETIAAN TIDAK SAMA DENGAN MELAKUKAN SEMUANYA

Mungkin selama ini kita tanpa sadar mengukur kesetiaan dengan jumlah pekerjaan.
Semakin banyak yang kita lakukan, semakin setia kita merasa. 
Semakin sibuk kita, semakin merasa berguna. 
Semakin banyak orang yang kita layani, semakin merasa bahwa hidup kita berarti.

Padahal Tuhan mungkin tidak sedang menghitung kesibukan kita.
Tuhan sedang melihat kesetiaan hati kita.

Ada pekerjaan besar yang terlihat manusia.
Ada perkara kecil yang hampir tidak dilihat siapa pun.

Tetapi keduanya dapat menjadi berharga di hadapan Tuhan ketika dilakukan dengan kasih dan kesetiaan.

Karena itu:
Aku tidak harus melakukan semuanya untuk membuktikan bahwa aku setia.
Aku hanya perlu setia pada apa yang Tuhan percayakan kepadaku hari ini.

———————

PERKARA KECIL JUGA DILIHAT TUHAN

Mungkin ada pelayanan yang tidak pernah masuk berita.
Tidak ada foto.
Tidak ada tepuk tangan.
Tidak ada penghargaan.
Tidak ada yang mengetahui bahwa malam itu kita menangis sebelum tidur karena memikirkan seseorang yang kita layani.
Tidak ada yang tahu berapa banyak keputusan sulit yang harus kita buat.
Tidak ada yang tahu berapa kali kita ingin berhenti tetapi tetap datang.

Tetapi Tuhan tahu.....

Dan mungkin suatu hari kita akan mengerti:
Ternyata tidak ada kesetiaan yang sia-sia di hadapan Tuhan.
Bahkan perkara kecil.
Bahkan pelayanan yang tidak terlihat.
Bahkan doa yang hanya terdiri dari satu kalimat.
Bahkan air mata yang jatuh diam-diam.
Semuanya ada dalam pengetahuan-Nya.

——————

MUNGKIN YANG HARUS KITA TANYAKAN BUKAN “APA LAGI?”

Ketika kita lelah, jangan selalu menambahkan pertanyaan:
“Apa lagi yang harus saya kerjakan?”

Cobalah bertanya:
“Apa yang harus saya pegang?”
“Apa yang harus saya lepaskan?”
“Apa yang harus saya delegasikan?”
“Apa yang harus saya tunda?”
“Apa yang harus saya serahkan kepada Tuhan?”


Sebab hidup pelayanan bukan perlombaan untuk memenuhi semua ruang.
Kadang pelayanan yang sehat justru membutuhkan keberanian untuk berkata:
“Ini bukan bagian saya.”

Dan itu bukan egoisme.
Itu mungkin adalah hikmat.

——————

UNTUK SAUDARAKU YANG SEDANG REDUP

Kalau engkau sedang membaca surat kecil ini dan merasa lelah…
Saya tidak ingin mengatakan:
“Ayo, semangat! Jangan menyerah!”

Mungkin engkau sudah terlalu sering mendengar itu.
Saya hanya ingin berkata:
Berhentilah sebentar. Tarik napas.
Datanglah kepada Tuhan tanpa harus terlihat kuat.


Katakan kepada-Nya apa adanya:

“Tuhan, saya masih mengasihi-Mu.
Saya masih ingin melayani-Mu.
Saya tidak ingin meninggalkan panggilan ini.
Tetapi saya lelah.
Saya benar-benar lelah.”


Tidak perlu memperindah doa itu. Tuhan sudah mengetahui semuanya. Dan jika hari ini engkau hanya mampu mengerjakan satu perkara kecil dengan setia…

biarlah itu cukup.

Besok mungkin Tuhan memberi kekuatan untuk perkara yang lebih besar.
Tetapi hari ini—  cukup untuk setia saja…

——————

DAN SURAT INI SEBENARNYA JUGA UNTUK DIRIKU SENDIRI

Mungkin selama ini aku terlalu sibuk menguatkan orang lain.
Terlalu sibuk mencari jalan.
Terlalu sibuk mengisi ruang.
Terlalu sibuk memikirkan apa yang masih bisa dikerjakan.


Sampai lupa bertanya:
“Bagaimana kabarku sendiri?”

Mungkin aku perlu belajar bahwa berhenti sebentar bukan berarti berhenti dari panggilan.
Mungkin aku perlu belajar bahwa meminta pertolongan bukan tanda kelemahan.
Mungkin aku perlu belajar bahwa tidak semua masalah harus kuselesaikan.
Mungkin aku perlu belajar bahwa tidak semua pintu harus kumasuki.

Dan mungkin aku perlu belajar mengatakan kepada Tuhan:

“Tuhan, saya tidak ingin berhenti setia.
Tetapi saya juga tidak sanggup terus seperti ini.”
Maka Tuhan…
tunjukkan kepadaku mana yang harus kupegang,
mana yang harus kulepaskan,
mana yang harus kuserahkan kepada orang lain, dan 
mana yang harus kuserahkan sepenuhnya kepada-Mu.

——————
Untukmu, saudaraku sesama pelayan:

Kalau hari ini engkau sedang lelah, jangan buru-buru menyimpulkan bahwa engkau sudah kehilangan panggilan. Mungkin engkau hanya membutuhkan istirahat.

Kalau apimu sedang redup, jangan buru-buru mengira bahwa Tuhan telah meninggalkanmu.
Mungkin Tuhan sedang mendekat untuk menyalakannya kembali.

Dan kalau hari ini engkau hanya mampu melakukan sedikit…
jangan hina kesetiaan kecil itu.

Sebab kita tidak dipanggil untuk menjadi hebat di mata manusia.
Kita dipanggil untuk setia di hadapan Tuhan.

Kutipan ini mungkin dapat menguatkanmu:
“Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia.” — Matius 25:21

Tetaplah setia.
Tetapi jangan merasa harus selalu kuat.
Tuhan yang memanggilmu adalah Tuhan yang juga sanggup menopangmu.
Tuhan Yesus memberkati.

I Nyoman Djepun

Saturday, May 9, 2026

YOHANES DAN KITAB WAHYU ( WAHYU 1:1-8)

 WAHYU 1:1-8


PENDAHULUAN


Kitab wahyu ditujukan kepada tujuh jemaat di Asia. Tujuh jemaat yang menjadi tujuan penulisan Kitab Wahyu oleh Rasul Yohanes adalah jemaat-jemaat yang memiliki begitu banyak pergumulan dan penderitaan oleh imannya pada masa akhir pemerintahan Kaisar Nero dan pada masa kelam kekaisaran Domiktianus.  Oleh sebaba itu kitah wahyu disampaikan sebagai peenghiburan dan penguatan kepada umat yang bergumul.

 

Kitab ini ditulis oleh Rasul Yohanes yang oleh pemerintahan Romawi ia diasingkan dan di buang di pulau Patmos. Keseluruhan Kitab Wahyu adalah mencerminkan keadaan sejarah pada zaman pemerintahan Domitianus, yang menuntut rakyatnya untuk memanggil dia “Tuhan dan Allah”. Perintah ini menjadi pertentangan antara orang dengan sukarela untuk mengikuti perintah kaisar dan orang Kristen setia yang tetap menyembah Yesus sajalah “Tuhan dan Allah”. Maksud utama penulisnya ialah untuk memberi harapan serta semangat kepada para pembacanya, dan juga untuk mendorong mereka supaya tetap percaya pada waktu dianiaya dan ditekan. Itulah sebabnya kita harus pula memandang bahwa jemaat di Asia sebagai penerima surat ini adalah mereka yang sedang berada dalam derita aniaya tersebut.

 

TAFSIRAN / TELAAH

Dalam pemahaman bahwa tulisan ini ditujukan oleh Yohanes agar dapat dibacakan atau dibaca langsung oleh 7 jemaat di Asia kecil atau yang sekarang ada di sekitar Turki Barat, dan mengetahui bahwa ketujuh jemaat ini sedang mengalami kesulitan dan persoalan hidup akibat iman percayanya, maka ada beberapa catatan penting dari ayat 1-8 bacaan kita ini, yakni:

 

1.       Keakuratan dan Kepentingan Tulisan Wahyu ini (ay 1-3)

Yohanes memulai tulisannya ini dengan kalimat “inilah wahyu Yesus Kristus”. Dengan menggunakan kalimat ini, pembaca kita ini diantar pada suatu pemahaman bahwa akurasi apa yang disampaikan ini tidak mungkin meleset dan pasti akan terjadi karena yang menyampaikan kepadanya adalah Yesus Kristus sendiri. Dengan menyebutkan sumber pewahyuan tersebut, Yohanes menempatkan diri bukan sebagai sumber berita, namun hanya sebagai saksi penerima wahyu yang memiliki kewajiban moral untuk meneruskan apa yang ia dengar, lihat dan saksikan dalam pewahyuan tersebut.

 

Dengan kata lain, tersajinya wahyu ini dalam bentuk tulisan untuk dibaca oleh orangg lain, disebabkan tanggung-jawab iman Yohanes sebagai penerima wahyu tersebut, dan juga tidak boleh diabaikan, bahwa penuliskan wahyu ini menjadi kitab atas perintah langsung dari TUHAN kepadanya (1:11,19; 2:1 dst). Terdapat 13 kali perintah “tuliskan” muncul dalam kitab ini sebagai bukti bahwa wahyu ini ditulis menjadi kita bukan hanya kemauan Yohanes tapi atas perintah Tuhan Yesus agar dibaca oleh orang lain (ay.3).

 

2.       Legitimasi Ilahi terhadap pewahyuan dan fungsi penguatan (ay 4-5)

Dampak dari poin pertama di atas adalah legitimasi ilahi terhadap kitab ini. Bahwa kita ini bukan karangan biasa saja, bukan sekedar ilham Roh Kudus sambil lalu, tetapi ditulis berdasarkan apa yang di dengar, dilihat dan dirasakan oleh Yohanes yang berada di pengasingan pulau Patmos.

 

Itulah sebabnya, Yohanes membuka surat ini dengan menyampaikan salam pembuka dari dirinya sebagai penulis kitab ini, tetapi juga salam langsung yang dititipkan oleh pemberi wahyu, yakni Yesus Kristus, kepada para pembaca kirab ini kelak. Dengan demikian, legitimasi dan keabsahan tulisan ini tidak bisa diragukan dan tidak perlu dipertanyakan secara iman. Bahwa apa yang ditulis oleh Yohanes datang dari Allah sendiri, menjadi bukti kuat bahwa wahyu ini datang dari Allah.

 

Selanjutnya, karena kita ini ditujukan kepada jemaat di Asia kecil (ay.4) yang dalam sejarahnya sedang berada dalam berbagai rupa penganiaan dan penderitaan oleh karena iman percaya mereka, maka kitab ini sekaligus menjadi kekuatan bagi mereka yangg mederita itu. Perhatikan penggalan kalimat ayat 5: “... dan dari Yesus Kristus yang berkuasa atas raja-raja bumi...”. Bagi tujuh jemaat penerima kitab ini, tulisan itu merupakan penguatan iman bagi mereka yang saat itu sedang dianiaya oleh raja raja bumi, baik oleh Kaisar Nero yang kemudian dilanjutkan oleh Kaisar Domiktianus. Penderitaan yang mereka alami disebabkan karena mereka lebih tunduk kepada Yang Lebih Berkuasa, yakni Yesus Kristus Raja di segala raja,  daripada tunduk kepada para raja dunia.

3.       Yesus ada dalam dan di atas sejarah dunia (ay 6-8)

Ayat 6-8 memberikan penjelasan dan mengingatkan ulang mereka yang sedang menderita bahwa Yesus Kristus tetap ada untuk selama-lamanya. Ia tidak terkurung oleh waktu, atau terbatas pada suatu periode sejarah. Yesus Kristus pasti akan datang kembali (ay.7). Itulah sebabnya hal ini seharusnya menguatkan tujuh jemaat bahwa Tuhan Yesus melihat penderitaan mereka dan tidak melupakan mereka.

 

Kemenangan kerajaan Allah terjadi waktu kedatangan Yesus Kristus yang kedua kali. Dalam ayat 7 disebutkan bahwa Yesus datang dengan awan, ini mengambarkan bahwa kedatangan Tuhan Yesus dengan kemuliaan, semua mata menatap Dia. Kemenangan zaman akhir (eskatologis) bagi orang yang setia dan sejarah akan berakhir dengan jatuhnya hukuman atas sistim iblis di dunia ini. Kemenangan Yesus Kristus ini dipertegas dengan pernyataan Aku adalah Alfa dan Omega, yang ada, yang sudah Ada dan yang akan datang yang Mahakuasa.

 

Alfa adalah huruf pertama dalam Alfabhet Yunani dan Omega adalah huruf terakhir. Allah itu kekal dari penciptaan sampai kesudahannya. Ia adalah Tuhan diatas semuanya. Ia akan menang atas segala kejahatan dan memerintah segala sesuatu. Dengan mengungkapkan ini, maka menjadi jelaslah siapa Yesus Kristus itu. Ia adalah Allah itu sendiri, tetapi juga ia adalah Allah yang bersedia ada dalam sejarah manusia (lahir, hidup dan berkarya) namun Ia tidak terpenjara dalam sejarah melainkan jauh di atas sejarah. Ia adalah Alfa dan Omega

 

RELEVANSI DAN APLIKASI

1.       Beberapa hari ini di pemberitaan media masa, ramai dibicarakan tetang pencatutan nama Presiden oleh ketua DPR. Mencatut nama pimpinan negara untuk hal yang tidak benar apalagi dengan tujuan kepentingan pribadi adalah suatu tindakan yang tidak dibenarkan. Bagaimana dengan Yohanes? Bukankah dalam bacaan kita sangat jelas bahwa ia “mencatut” nama Tuhan Yesus dalam kitabnya ini?

 

Memakai nama orang yang berpengaruh bertujuan untuk mendapat legitimasi dan wibawa kuasa dari nama itu. Kasus Freeport adalah salah satu contohnya, termasuk isi kitab Wahyu ini. Tetapi walau dua hal ini terkesan sama-sama memakai nama pribadi yang berkuasa, namun perbedaan mendasar adalahh pada tujuan menggunaan nama itu.

 

Yohanes menyebut nama Yesus bukan saja untuk gaga-gagahan dan sembarang mencatut. Bukan pula sekedar legitimasi bisa, dan bukan supaya nama Yohanes menjadi populer. Menyebut nama Yesus untuk menunjuk sumber perintah dan sumber pemberitaan. Yohanes menyebut dia hanyalah saksi, tetapi Yesus-lah sumber beritanya. Itu berarti penerima kita ini, termasuk gereja masa kini, mesti fokus pada sumber berita bukan pada Yohanes yang diberitakan.

 

Yohanes menggunakan nama Yesus dengan tujuan benar dan target yang tepat yakni agar banyak mengetahui kebenaran tersebut dan kemudian Yesuslah yang ditinggikan. Seperti Yohanes kita diajarkan untuk mengggunakan nama TUHAN dengan benar. Bukan sekedar supaya kedengaran rohani; bukan pula sekedar supaya terkesan bahwa yang kita omongkan memang benar. Apalagi banyak orang mencatut nama Tuhan dengan sumpah atas nama Tuhan. Yohanes memakai wibawa nama Yesus itu dengan tepat dan bertujuan mulia dan agung. Bagaimana dengan kita?

 

2.       Tuhan Yesus adalah pribadi yang sudah ada sebelum dunia ini ada, dan tetap ada walau dunia ini berakhir. Dialah Alfa dan omega, yang awal dan yang akhir. Bagaimanapun sebagai orang percaya, kita tidak pernah disukai dunia dan bahkan dibenci oleh dunia (Yoh.16). Karena itu, tidaklah heran jika dunia membenci gereja Tuhan. Tidaklah kaget jika banyak prilaku anarkis ditujukan mereka ke[ada gerejaNya di sepanjang sejarah dunia. Penganiaan dan perlakukan tidak adil akan terus dihadapi oleh gereja Tuhan ini.

 

Kasus “Singkil” di Aceh adalah salah satu contohnya. Tetapi kita dipanggil untuk tidak menyerah pada situasi buruk yang dialami umat percaya. Karena keyakinan iman kepada Allah harusnya menjadi pengharapan kita. Apakah isi pengharapan yang dimaksud? Bahwa Yesus akan datang dengan awan di angkasa. Bahwa Yesus yang menang akan menunjukkan kuasanya yang ajaib. Maka kita harus tekun dan sabar menghadapi derita itu sebagai panggilan iman kita. Amin.

Wednesday, November 12, 2025

1 PETRUS 2:23-25

 1 PETRUS 2:23-25
Bahan Khotbah Ibadah Keluarga
19 November 2025


PENGANTAR



Para penerima surat 1 Petrus ini, hidup dalam masa-masa sukar. Mereka ada di zaman sulit. Saat dimana Kekristenan alami penganiayaan. Dibenci oleh
Kaizar Nero, sang penguasa. Tentu saja, bagi yang memiliki mentalitas cari aman, pilihan mengikuti jejak Yesus, bukanlah keputusan cerdas. Mereka akan memilih menolak salib, sebab itu derita. Terhadap yang setia beriman, namun minim pemahaman, Petrus bukan saja mencerdaskan, namun juga menguatkan melalui suratnya ini.

 


TELAAH PERIKOP (Tafsiran)


Untuk dapat memahami aya 23-25, sangat baik untuk membaca dan menemukan penjelasan keseluruh perikop yakni ay. 18-15. Perikop ini dapat dibagi dua, yaitu
pertama, berisi nasehat tentang bagaimana bersikap sebagai seorang Kristen dengan status sosial tertentu ditengah masyarakat (ay.18-20) dan kedua, apa dasar dari atau alasan dari nasehat-nasehat tersebut (ay.21-25).

 

1.      Isi Nasehat dan Himbauan Petrus (ay.18-20)


Tidak mudah untuk mengerjakan nasehat yang ada pada ayat 18-20 bacaan kita. Bagaimana mungkin menerima begitu saja tiap ancaman dan perlakuan tidak adil sebagai hamba terhadap tuan yang bengis itu? Bahkan dalam ayat 19-20 penderitaan akibat perlakuan buruk itu disebut “kasih karunia pada Allah”. Bagaimana mengerti perintah atau nasehat petrus ini?

 

Istilah “tunduk” dipakai oleh LAI untuk menerjemahkan katahupotassomai yang berarti bahwa saya menempatkan diri (membiarkan diri ditempatkan) di bawah pengaturan atasan. Jadi, kata itu tidak semutlak “menaati”. Misalnya, saya harus taat kepada Allah, dan anak (kecil) kepada orangtuanya. Tetapi dalam hubungan hierarkis, seperti pemerintah, tempat kerja dsb, saya harus mengakui kuasa yang diberikan Allah kepada atasan. Pada umumnya hal itu berarti bahwa saya menaati atasan, tetapi, seperti Petrus sendiri yang “tidak taat” kepada Mahkamah Agung Yahudi, ada saatnya juga saya harus menaati Allah daripada manusia (Kis 4:19).

 

Kemudian, kata “ketakutan” (Yun: fobos) di sini merujuk pada rasa hormat. Tentang atasan, kata fobos dapat berarti “takut kena penyiksaan dari atasan yang bengis” atau “takut mengecewakan atasan yang ramah dan yang saya hormati”. Ketakutan yang pertama memang perasaan yang dialami jika ada tuan yang bengis. Tetapi ketakutan yang kedua, tidak boleh diabaikan yakni takut mengecewakan tuan yang ramah. Dengan demikian, “tunduk dengan penuh ketakutan”  kepada tuan, harus dipahami dalam dua kategori tadi.

 

Tetapi bagaimana jika diperlakukan tidak adil oleh tuan yang begis? Tentu hal itu tiidaklah mudah, apalagi mesti menganggap bahwa hal itu adalah anugerah (kasih karunia). Dalam aya.19-20 terjemahan “kasih karunia” atau “anugerah” harus dimengerti sesuai dengan pengertian asali dari istilah ini. Kata Kasih Karunia berasal dari istilah Yunani “kharis yang berarti sikap yang baik kepada pihak lain. Seringkali kata kharis dipakai untuk sikap Allah yang baik kepada kita bukan karena perbuatan kita melainkan karena penebusan dalam Kristus, dan untuk artian itu terjemahan “Anugerah atau kasih karunia” oleh LAI adalah tepat.

 

Tetapi di sini Petrus merujuk justru pada perbuatan atau sikap yang berkenan di hadapan Allah, yaitu menanggung penderitaan yang tidak adil. Allah melihat perlakuan yang tidak adil itu, dan memuji kita, bukan memuji tuan yang bengis. Jika kita tetap menerima dengan rela keburukan itu tanpa bersungut maka di mata Tuhan itu adalah kasih karunia, atau pada pandangan Allah perbuatan kita itu adalah perbuatan yang baik (kharis).

 

2.      Landasan dan alasan himbauan itu (ay.21-25)

Bagaimana kita tahu bahwa Allah berkenan atas penanggungan penderitaan yang tidak adil dan menganggap apa yang kita lakukan (menerima dengan tunduk pada atasan yang begis) dianggap suatu perbuatann baik atau kasih karunia? Karena Kristus telah merintis jalan itu. Perlakuan terhadap Kristus ketika Dia ditangkap dan disalibkan adalah perlakuan paling tidak adil karena Kristus tidak ada dosa sama sekali (ay.22). Namun, Kristus tidak membalas tetapi menyerahkan perlakuan itu kepada Sang Hakim yang adil (ay.23). Jika kita menanggung penderitaan yang tidak adil, itu bukan suatu kerugian, sebaliknya hal itu adalah kasih karunia atau dianggap perbuatan baik yang kita lakukan di mata Allah.

 

Kita diajak untuk meneladani Kristus dalam penderitaanNya dan menjadikan itu motivasi bagi kita untuk melakukan perbuatan baik walau alami penderitaan (ay.24-25). Artinya, kita diajak bahwa andaikata harus menderita karena menjadi orang Kristen sekalipun, kita harus tetap berbuat baik. Jangan hanya karena kondisi hidup yang tidak baik, kita akhirnya melakukan hal yang tidak benar dan membawa kita dalam dosa. Pada bagian ini sangatlah penting, yakni Petrus mengajak kita untuk meninggalkan perbuatan dosa kita agar menjadi kesaksian bagi banyak orang termasuk mereka yang menista kita sekalipun. Tetap berbuat baik dalam penderitaan sekalipun adalah suatu kesaksian yang mmeberikan telandan kepada banyak orang.

 

RELEVANSI DAN APLIKASI

Apa yang hendak Petrus sampaikan pada para pembaca suratnya kala itu, Untuk dapat kita aplikasikan dalam hidup beriman kita? Ada beberapa hal penting, yakni:

1.      Perhatikan ayat 20 yang berbunyi: “…Tetapi jika kamu berbuat baik dan karena itu kamu harus menderita, maka itu adalah kasih karunia pada Allah. Sebab untuk itulah kamu dipanggil, karena Kristuspun telah menderita untuk kamu dan telah meninggalkan teladan bagimu, supaya kamu mengikuti jejak-Nya.” Dengan sangat sederhana, Petrus mau mengatakan, bahwa dengan mengikuti jejak Yesus, ujungnya adalah hidup! Bukan melulu penderitaan, apalagi kematian. Dengan demikian, ia secara tegas mengingatkan kaum beriman di zamannya, bahwa tidak sia-sia setia beriman, dandan meneladani Kristus. Jika kita tetap rela menderita karena kebenaran, maka itu dipandang oleh Allah sebagai perbuatan baik, yakni suatu kasih karunia. Sehingga di masa sukar itupun, kita tetap dapat bersaksi tentang kebenaran.

 

2.      Motivasinya jelas, yaitu menyenangkan hati Allah. Para budak atau hamba pada jaman itu diminta untuk tetap setia, berlaku benar, dan bersikap baik pada para tuan mereka, bukan untuk menjilat. Bahkan tetap berbuat baik meskipun diperlakukan jahat. Tujuannya untuk memuliakan nama Allah! Menjadi teladan hidup bagi dunia sekitar. Lainnya, sebagai wujud pelaksanaan dari tugas panggilan iman. Jadi entah kita mengalami penderitaan atau tidak, saudara dan saya diajak meiliki motivasi yang tepat dalam hidup ini yakni: Menyenangkan Tuhan.

 

3.      Sebagai orang percaya kita dipanggil untuk meneladani Kristus, yang rela menderita bahkan hingga mati di kayu salib. Ia tidak melawan, iapun tidak membalas. Sebab ia tahu kepada siapa ia harus tunduk, yakni pada Sang Bapa dan misiNya bagi dunia. Kerelaan kita untuk menjalani kehidupan ini dan juga siap hadapi derita demi suatu kebenaran, hal itu semata karena tunduk dan taat pada Sang Tuan yang Agung yakni Allah Bapa kita. Kendatipun harus menderita, kita tetap memilih untuk tetap berbuat baik dan benar. Supaya melalui itu nama Tuhan tetap dimuliakan.

 

Karena itu, marilah jalani hidup ini. Entah di saat kita menderita sekalipun atau hidup dalam sukacita, pastikan bahwa kita tetap menyenangkan Tuhan lewat memuliakan namanya dalam semua keadaan hidup ini. Sebab dengan demikian kita telah menajdi saksi Kristus dalam dunia, sekaligus memberi teladan tentang bagaimanakah hiduo dalam kebenaran di tengah ketidaknyamanan sekalipun. Amin 

Yesaya 1:10-20

YESAYA 1:10-20 BAHAN KHOTBAH IHM 20 SEP 2026 PENDAHULUAN Bayangkan Anda menerima sebuah kado ulang tahun. Bungkusnya  luar biasa indah—kerta...